Mendaki Gunung Papandayan bareng Klub Horor Bukune | Gara-gara Gincu.

Mendaki Gunung Papandayan bareng Klub Horor Bukune | Gara-gara Gincu.

Udah puluhan tahun gue nggak keluar rumah dan ketemu matahari. Gue berangkat ke kantor pagi-pagi dan pulang udah gelap lagi. Kulit gue sampe putih berkilau dan agak glitter-glitter gitu. sebelas – dua belas juta lah dibanding Edward Cullen mah~
Saking terawatnya kulit gue, sampai banyak yang ngira kalo gue homo. Cuk!
Di titik ini gue mulai berpikir, Apa gue main gundu dan layangan lagi ya? Agar kembali jadi lelaki seutuhnya. Ah, tapi masa-masa itu sudah berlalu. Semua temen-temen sparing gundu gue udah main batu. Mana mungkin mereka rela batu bacan dan sulaimannya gue sentil-sentil di tanah merah? Bisa-bisa ikutan digosok di asahan kepala gue sampe tembus sinar senter.

***

Lagi asik browsing nyari paket liburan outdoor yang cocok untuk week-end, eh ndelalah Bang El (editor gue) ngajak ngesot ke Gunung Papandayan bareng Klub Horor Bukune . Kebetulan yang sangat  kebetulan banget gue memang lagi butuh keluar dari rutinitas yang membosankan ini. Langsung lah gue mengiyakan ajakan Bang El itu tanpa babibu. Walaupun gue udah pernah ke Papandayan, tapi lumayan lah untuk silaturahmi sama matahari.

Total yang ikut rombongan ini ada 10 orang termasuk gue, dengan Indra (penulis buku Penunggu Puncak Ancala) sebagai ketua regu, lalu Bang El (editor bukune sekaligus papih gue), Irsyad (editor bukune yang masih dalam masa plonco), Bedu (Ex tim promosi agromedia yang keluar gara-gara ketauan selingkuh sama kelinci peliharaan kantor), Rettania (penulis buku Apartemen Berhantu), Dea Sihotang (penulis buku Penunggu Puncak Ancala), Hanum (penulis buku Penunggu Puncak Ancala), Juned (keju kornet) dan Novia (ABG nyasar).

Kebayang betapa serunya naik gunung gue kali ini. Berpetualang bareng Klub yang isinya sekumpulan penulis Horor. Klub Horor, cuy! Mereka menyandang nama Horor disitu, jadi perjalanan ini nggak akan segembel jurik malam dengan senior berkostum pocong dan suara kunti buatan yang fals. Gue membayangan ketika nanti diatas gunung, kami semua akan melakukan ritual aneh. Atau mungkin jalan-jalan masuk hutan dan nemu batu bertuah. Apalah itu, pasti seru!

***

Hari H pun tiba. Nggak usah gue ceritain ya, dari jakarta ke Papandayan naik apa dan persiapan ke gunung bawa apa aja. Standart kok, di blog lain pasti banyak yang bahas. Langsung ke bagian ketika gue udah sampai di terminal Guntur, Garut. Sekitar jam 6 pagi, dan perut menunjukkan tanda-tanda pemberontakan meminta asupan makan. Gue dan Bedu tanpa pikir panjang (karena otak kami memang nggak bisa diajak berpikir panjang) langsung menuju gerobak bubur di seberang jalan.

Lagi asyik melumat semangkuk bubur, dari kejauhan gue melihat kerumunan para wanita horor itu melumuri badan mereka dengan sesuatu. Cairan kembang 7 rupa! pikir gue asal.
Karena penasaran dan pengin nyobain air kembangnya juga, gue mendekat. Setelah gue amati semakin dekat, para cewe-cewe itu ternyata cuma pake sunblock, lalu bedakan dan pake gincu.
Biasa banget ya? Udah ngerasa ada yang horor belum?
Oke, gue ulang ya. Perhatikan baik-baik apa yang gue ucapkan.

Ehem,,

GINCUUUUU!!!!
WHAT da’ eF ?

Gue bengong, tapi tetep ngunyah bubur soalnya laper banget.

Horor banget, Brot! Ketika lo tahu bahwa lo akan naik gunung bersama orang-orang yang berdandan. Bahkan ada yang warna gincunya persis kaya rear lamp-nya Lamborgini, merah cerah dan bisa nyala. ITU HOROR! Bukan dandannya yang jadi masalah, tapi~
orang yang suka dandan pasti berbanding lurus dengan seberapa suka dia berfoto ria. Para, cowok-cowok pasti sering menemukan kejengkelan tersendiri ketika cewe-cewe rewel minta foto.

IMG20150321085046
Itu gue nggak ikutan pake gincu kok, efek minum fanta~

 

Kebelet-boker
Terlihat seperti berdoa sebelum melakukan perjalanan.

 

perjalanan dimulai
Lalu perjalanan pun kami mulai.

 

Dan perlu kalian tahu bahwa jumlah spot pemandangan indah di gunung papandayan itu nggak cukup dihitung pake seluruh jari yang gue punya. Cobalah kita telaah secara matematis.

Kalau kira-kira ada 21 spot (bener kan jari gue nggak cukup?) yang bagus untuk foto-foto dan setiap foto memakan waktu berhenti sekitar 5 menit, maka 21 x 5 = 1 jam  45 menit. Gokil, matematika gue keren. Biasanya cuma bisa ngitung duit. Anyway,  Waktu yang dibutuhkan dari camp David menuju pondok salada itu sekitar 2-4 jam. Kita ambil 4 jam, kenapa? Karena bedak yang luntur di jalan harus ditambal. :p

Carrier atau tas yang kami bawa bobotnya beda beda, tergantung kemampuan dan keikhlasan masing-masing. Yang pasti, cewe-cewe bebannya lebih ringan. Carrier paling berat di tim kami adalah milik Irsyad, mungkin sekitar 20 kg+ karena ada tenda kompor dan teman-temannya di dalam situ. Lalu dia harus ikut menahan beban itu lebih lama. Dari yang seharusnya cuma 2 jam, menjadi 5 jam 45 menit. Bayangin~

Dan perhitungan gue barusan ternyata meleset, mereka nggak berhenti di 21 spot foto, fyuh…
melainkan setiap 100 meter. YAP! Setiap seratus meter!

istirahat rest perjalanan papandayam
Istirahat brot, capek gila~

 

Jarak dari camp david menuju pondok salada adalah 4km. Yang artinya 4000/100 = 40. Jadi totalnya adalah 40 x 5 menit = hmmm.. sori, otak gue nggak bisa bertahan lama kalo itung-itungan. Itung sendiri deh seberapa penderitaan kami para pria yang memikul beban lebih berat.

papandayan jomlo naik gunung

 

meme gunung papandayan
Saat dimana Bedu ditolak Irsyad
Irsyad kedinginan ketek papandayan
Dan Irsyad justru lebih memilih gue. Tapi sayang gue normal. Jadi Dia balikan sama Bedu.

 

Udah terbukti belum kalau klub ini horor?

Lalu gincu merah itu sebenarnya adalah pertanda, bahwa kita nggak akan sampe bagian atas Papandayan, yaitu Tegal Alun. Dari awal gue sudah menyadari hal itu. Kok tahu? Karena gincu merah dan Tegal Alun itu nggak matching. Dan benar, sampai Pondok Salada -tempat kami mendirikan tenda- Bang El meriang, pucet banget. Gue sampe nggak tega ngeliatnya. Mau gue peluk, takut ditendang. Mau gue karungin pake trash bag biar udara dingin nggak masuk, takut doi nggak sengaja terbuang ke tempat sampah. Lagi pula ketika masuk jadwal kita naik untuk summit ke Tegal Alun, hujan deras menyambut dengan kurang ramah. Tenda bocor, dan baru berhenti sekitar jam 7 malam.

Sadar nggak? Bahwa semua itu berkaitan.
Semua berawal dari gincu merah, merah itu warna Manchester United, Lambang MU itu Red Devil, Devil itu setan, dan bang El yang lebih serem dari setan bisa sakit, lalu hujan turun untuk melunturkan gincu itu, meski terhalangi tenda, air tetap menerobos masuk. Make sense, right?

Gimana? HOROR KHAN SHOOBBBHH?

***

Tapi nggak apa, disitulah letak keseruan pergi dengan orang-orang baru. Lo akan mendapatkan pengalaman baru.

Selebihnya sih, perjalanan ini seru-seru aja. Kawah papandayan tetap indah. Hutannya masih hijau. Edelweis masih tumbuh lebat. Untuk menjabarkan keindahan papandayan, biar foto yang berbicara. Kemampuan menulis gue belum sehebat itu untuk bisa menggambarkan keindahan Papandayan.

selfie at papandayan
Yang wajib dilakukan di tempat super keren adalah: SELFIE!

masak-masak sendiri meme jomblo akut

 

pemandangan papandayan
Ini pemandangan dari Pintu Angin Papandayan ke arah kawah ketika pagi hari.

 

kawah baru gunung papandayan
Ini kawah baru gunung Papandayan

 

kawah papandayan
Ini jalur menuju kawah baru gunung Papandayan

 

batu yang bikin tobat dini
Ini kawah lama, sekaligus trek berbatu yang bikin tapak kaki jomlo merintih lebih keras.
Udah tapak perih, jalan sendiri lagih!
Pemandangan papandayan
Ini pemandangan hijau Papandayan, bikin pegel ilang.
Papandayan-Klub-Horor-Bukune-(93)
Edelweis belum mekar, kaya hati gue yang masih kuncup.

 

landscape papandayan mountain
Ini yang paling pecah, HUTAN MATI! Cocok buat pre-wed…
Tapi sama siapa pre-wed-nya ya? T_T

 

Tapi ada hal yang bikin gue sedih di pendakian kali ini. Sekarang di Pondok Salada ada warung gorengan! Belum kaget ya? Oke, di pondok salada ada TOILET!!!

IMG20150322105300
Kayaknya bener deh tahun depan akan dibangun Sevel~
toilet gunung papandayan
Ada dispenser juga~

 

“Lho, bagus dong kalo ada Toilet. Jadi lebih gampang kalo mau pup nggak usah gali-gali tanah.”

Iya, tapiii~
Makin banyak orang-orang manja yang dimudahkan untuk mengotori lingkungan.

Dulu pertama kali gue kesini, tempat ini masih penuh tanaman edelweis, sekarang jadi camping ground.

 camping-ground-salada
Pada piknik.
sampah papandayan
Jangan tanya itu apa, dan jangan tanya apa cuma di satu titik atau ada banyak yang seperti ini? Gue sedih ngejelasinnya.

 

Fyuhhh~ Sedih brot, miris..
Tapi ya mau gimana lagi, gue juga menyadari kalau gue termasuk dalam orang-orang perusak itu. Karena kalau gunung ini nggak gue injak, pasti akan lebih asri lagi. Jadi mikir deh, kalo diajak naik gunung lagi. Kayaknya lebih baik jangan. Tapi pengin. #Galau

Bagaimana kalau kita sudahi keluh kesah gue kali ini?
Karena gue mau ngasih saran untuk kalian yang baru akan naik gunung, apapun gunung yang kalian tuju.

1. Bawa perlengkapan sesuai standart, jangan anggap remeh gunung yang akan kalian daki. Alam tetaplah alam. Kita nggak pernah tau apa yang bisa terjadi disana.

2. BAWA SEMUA SAMPAH TURUN, PLEASE! Aku mohon dengan sangat (gaya Andre Taulani dalam film Kiamat Sudah Dekat) bahkan sekedar bungkus permen. Sedih lho, ketika lo pernah ngeliat sebuah tempat yang dulunya indah banget dan bersih, sekarang kotor dan nggak seindah dulu.

3. Jangan forsir tenaga di awal perjalanan. Biasanya pertama kali naik gunung pasti semangatnya setara orang LDR ngapelin pacar yang nggak ketemu selama 20 tahun. Takutnya baru setengah jalan, lo udah kepayahan.

4. Sadari fisik diri sendiri, cuma lo dan Tuhan yang tahu kondisi diri lo sendiri. Kalo ngerasa ada yang salah, kaya mendadak lemes, pandangan kabur atau rasa sakit lain yang kira-kira membahayakan, kasih tahu temen-temen lain supaya lo dijagain. Karena kalo lo jatuh sakit, semua akan kena imbasnya. Bisa jadi perjalan keatas dibatalkan. Jadi ini bukan cuma demi lo, tapi demi kepentingan bersama. Tapi kalo cuma pusing dikit, pegel-pegel, bisulan, panu, kadas, kurap ya lo urus sendiri aja lah. Please~

5. JANGAN EGOIS! Biasanya orang yang baru pertama mendaki akan diberi beban lebih sedikit saat bagi-bagi bawaan. Nah, kalau udah tahu beban teman lain lebih berat, jangan ditambah berat dengan berhenti foto-foto di setiap 100 meter perjalan. Itu punggung temen lo bisa jadi pepes, terutama yang bawa tenda.

6. Kalau masih merasa sehat, jangan sungkan untuk membantu yang lain.

“Kalau lo banyak membantu, lo akan banyak terbantu.”

#Hazeeegh kaya orang bener aje kata-kata gue.

Itu bukan tentang kalo lo minjemin duit 50 ribu ke gue, terus proses PDKT lo sama chelsea Islan mendadak lantjar jaja. Bukan kaya gitu. Itu sih tetap mustahil, Ngaca!
Jadi, di pendakian kali ini gue udah niatin untuk ngebantu naik temen-temen gue yang kesusahan. Entah sekedar ngulurin tangan untuk jadi pegangan, atau bawain tas temen yang kecapekan. Karena gue sadar, beberapa dari mereka belum pernah naik gunung. Cuma niat gitu doang. Simple.
Lalu ketika di Pondok Salada, percaya atau nggak, yang lain kedinginan di dalam tenda, ada yang demam, ada yang pilek, sementara gue justru duduk diluar tenda menikmati bintang-bintang yang luar biasa kerennya pake kolor doang. Padahal sorenya gue abis kehujanan setelah ngambil air di sungai. Ya, logisnya sih, mungkin kondisi temen-temen gue saat itu ada yang kurang fit. Tapi kalau ditarik mundur, kondisi gue juga kurang fit karena abis lembur di kantor sampai jam 3 pagi, dan gue termasuk yang paling nggak kuat kena AC. Maklum, wong ndeso.

Ya, mungkin itulah yang dimaksud “terbantu” tadi.

Secara keseluruhan sih, perjalanan ini seru banget. Gue ketemu macam-macam orang aneh, cewe-cewe bergincu, Irsyad yang kalo ngomong kaya orang ngelem, dan juned yang bawa gear absurd macam alat pijit kepala serta senter batu akik.

Gue yang lebih sering jalan di belakang, memperhatikan sifat teman-teman gue di depan. Dan seperti kebanyakan orang bilang, selesai naik gunung lo akan bisa membedakan mana teman yang baik dan mana yang cuma teman ajah~ Karena biasanya Ego kemanusiaan kita akan sangat keluar disana tanpa kita sadari.
Dan sebagai penutup, gue menetapkan Irsyad Zulfahmi sebagai Man of The Match pada pendakian kali ini. Karena dia yang paling berat memikul beban, tapi masih sempet jagain Tania di belakang. So sweet~

hutan-mati-kita-hidupSetelah puas nggak ngapa-ngapain di atas. Kami bersiap untuk pulang melewati jalur yang berbeda, lewat hutan mati.
Hujan di Hutan Mati
Mereka jalan bersama,
terlalu-lama-sendiri-sendokir
Sementara gue sendiri.

 

***

Segitu aja ya, cerita gue kali ini. Nggak ‘aja’ juga sih. Udah panjang buanget itu hehehe~

Kalau kalian punya pengalaman aneh soal naik gunung, ceritain juga dong disini. Gue pengin tahu seaneh apa pengalaman lo~

.

.

.

.

.

Share the joy

47 Comments

  1. gue udah lama banget gak naik gunung, lebih sering ke wilayah pantai. waktu naik gunung, kayaknya biasa aja sih. jalannya berat, pas nyampe atas hilang semua beban karena pemandangan~ gitu-gitu aja sih. <<–gak bisa nyeritain pengalaman sendiri dengan menarik

    Reply
    • Pas nyampe atas, beban hilang bukan karena pemandangan. Tapi karena carriernya udah lo taro bawah. Bener nggak?

      Reply
  2. Gilak.. Rucksacknya berapa liter tuh? Gede amat.. Hahah.. 😀

    Pemandangannya bagus banget ya.. Aku suka Edelweisnya.. Sayangnya kebanyakan sampah di sana ya, Bang.. Kan kasian gunungnya.. :’

    Reply
    • 70 Liter,,

      Kalau udah mekar lebih keren lagi bro, edelweisnya..
      Iya sedih banget lihatnya.

      Reply
      • Ooo pantesan.. Punya ku cumak 60 liter.. 😀

        Yap. Hiker banyak yang nunggu-nunggu mekarnya edelweis kan 😀

        Reply
    • Di situ belum terlalu dingin. Kalau masih boleh bermalam di Tegal alun kaya dulu.. Wuih, dingin gilak!

      Reply
  3. Aku termasuk orang yang sangat fakum dengan yang namanya mendaki setelah lulus sekolah waktu dulu. Jadi pengen banget mendaki gunung, dan ingin tau rasanya kek gimana bersama teman-teman :)

    Reply
    • Yuk lah, blogger-blogger gathering di gunung mana gitu..

      Reply
  4. terlalu lama sendiri rasanya apalah-apalah iya mas hehehe

    Reply
    • apalah-apalah itu maksudnya gimana ya, mbak?

      Reply
  5. Ouw keren dan seru foto-fotonya, naik gunung itu emang asik, pemandangannya dahsyat, tapi kalau ingat mendakinya, ahduuhh, jadi mikir, hihiihi

    Reply
    • Jangan diinget-inget yang perih-perih mah.. Mantan yang dulu nyelingkuhin misalnya,, inget saat-saat indahnya aja, kaya cipokan, terus ***********

      Reply
  6. Hahaha anjiiir gue ngakak-ngakak di kantor baca ini, dan harus berusaha keras menahan karena manajer gue duduk ga jauh dari sini =)) penting banget bahas GINCUUUU~~

    Hahahah tapi terima kasih untuk tulisan yang menyenangkan~ dan untuk perjalanan yang menyenangkan~ makasih juga udah bantu2 newbies. Overall, perjalanan ini jadi menyenangkan karena orang-orangnya juga, termasuk elo. Semoga segera dapat pacar XD

    Reply
    • salah banget baca tulisan ini di kantor. Nggak puas ketawanya 😀

      Reply
    • Tania> Jadi kapan rencana wisata jurik malam? Ajak pembaca-pembaca ikut dong.. Mereka akan sukarela ikut kok dengan ongkos sendiri kalo budget promosi nggak ngejar mah. hahahaa~

      Sansadhia> Jangan dibaca, nikmati aja keindahan wajah-wajah yang telah di decorasi gincu itu~

      Reply
      • Bahahah ayok lah jurik malam~ Sebenernya dulu pernah, tapi gak terlalu rame karena pembaca kita pembaca remaja yang banyak dilarang ortunya keluar malam… #yanasib

        Ayok lah ngopi lagi sama papih lo itu trus bujuk buat bikin wisata malam XD

        Reply
        • Bikinnya siang hari bolong. Jurik Siang~
          hahaha..

          Yuk kita bujuk, sogok pake foto SNSD aja. 😛

          Reply
  7. Kenapa gincu merah lamborjini menjadi topik utama? Lo nggak nyadar, gincu merah itu pertanda horor yang paling akut? 😀

    Reply
    • Dupa merah aja nggak segitu seremnya, Bro’

      Reply
  8. jadi yang banyak foto-foto nih yang bergincu kah yang bawa rangsel nih. hihihihi……
    Makin horo aja….

    Reply
    • Iya horo, ya~

      Reply
  9. hahahahaa salah bgt loe, gincuan malah justru pemacu energi buat naik! 😀 dan photo2 penting karena ada misinya sendiri buat acara pertama KHB. Seinget gw, tenda cuma dua tapi kenapa carier tingginya ada 3? Banyak bawa gincu kah? :p

    Reply
    • Carrier gue itu isinya chiki, bahan makanan sama Air,, selundupan..
      Pas turun isinya sekantong penuh sampah..
      Naik surga, turun neraka..
      hahahaha~

      Reply
  10. Parah, ini tulisan bikin mupeng aja. :(

    Seru banget itu kayaknya, Ri. Gapapa sendirian, suatu saat juga bisa mendaki berdua sama pasangan. 😀

    Hmm, instagramable banget kayaknya itu yang hutan mati.

    Reply
    • Seruu lah, apa lagi kalo sama~~~ sudahlah~

      Hutan Mati buat prewed juga ~~ahhh~~ YOUWISLAH~

      Reply
  11. lihat foto pemandangan nya keren, apa lagi lihat langsung, jadi ke pengen mendaki gunung

    Reply
    • Gunung apa dulu nih? Yang single apa double? #eh

      Reply
  12. Oke, pertama, gue udah dibikin ngakak sama “sebelas – dua belas juta lah dibanding Edward Cullen mah~”. Kampret banget sumpah jauhnya. Hahahaha.

    Kedua, itu foto-foto yang ada tulisannya astagaa. Ketek anget. -___-

    Ketiga, baru kali ini gue gak bosen baca cerita panjang mampus kayak gini. Entah harus percaya kalo ini tulisan pengalaman atau malah curhat seorang jomblo kang. :( *kabur naik burak*

    Reply
    • Oke, pertama, ketuhanan yang maha esa.

      Kedua, beneran kok anget, sungguh. Coba aja.

      Ketiga, makasih udah baca sampe abis, dan makasih udah nyakitin perasaan gue. Hiks~

      Reply
      • ANJIR KETUHANAN YANG MAHA ESAAAA. GUE NGAKAK. :’))

        Reply
  13. aku suka bangeeet pemandangannya hehehe, pengen mendaki deh :(

    Reply
    • Ngeliat pemandangan aja yak, jgn dirusak, jgn dikotorin

      Reply
  14. Syukurlah senter batu akik gw berguna jugak…

    Reply
    • BERGUNA BUAT APAAAN KEJU KORNEEEET?? hahahaha!

      Ini nih, manusia paling absurd di gerombolan kami. Deuhhh~

      Reply
  15. Itu yang pemandangan dari Pintu Angin Papandayan ke arah kawah kece abis banggg

    gue pengen banget ke gunung gitu
    Tapi apa daya emak blm ridho
    hiks hiks hiks

    Reply
    • Ridho emak ridho Ilahi,,

      Reply
  16. itu fotonya keren-keren,tulisan dalam fotonya juga bikin ngakak apalagi pas ketek anget 😀
    quotenya bagus juga ” kalau banyak membantu,pasti banyak terbantu”

    Reply
    • Mau coba nggak? Suhu ketiak gue hari ini sedang hangat-hangatnya nih~

      Itu quote mikirnya lebih lama dari ngetik total semua tulisan ini. hahaha.. Makasih defa~

      Reply
  17. panjang jg ga flat bro, keren.
    gue baru tau ada dispenser di atas gunung. haha

    Reply
    • Memang punya gue panjang dan nggak flat,
      EH~
      Apa sih nih? ngomongin tulisan kan? 😀

      Reply
  18. Papandayan daerah mana sih? Hahahaha
    Sumpah gue gak tau sebentar mau googling dulu.
    Gue blm pernah mendaki, pengin bgt sih mendaki gunung, apalagi gunung kembar.njirrr

    Reply
    • WAHHHHHH KACAU LU WAAAHHH!!!

      ajak-ajak kalo mau ndaki gunung kembar brur~ :p

      Reply
  19. Butuh waktu berapa lama Ri buat jalan ke sana? Kepengen sih, tapi kalo ujungnya ngerusak mikir juga.. tapi kepengen! #alaah

    Bulan kemarin gw baru dari Ciwidey, adem!

    Reply
  20. weh keren sekali gan, saya suka yang beginian, mau ikutlah

    Reply
  21. iye beberapa taun lagi isunya indomart sama alfamart juga bakal buka cabang di gunung.. biar gak usah bawa makanan kalo mau mendaki

    wkwk

    Reply
  22. ini jadi gunung pertama yang ada toiletnya kali ya.. ._.
    Ahh… semoga kesampean ke papandayan.
    Katanya orang yang udah sering naik gunung terus udah punya patokan speed sendiri bakalan ngerasa capek ya kalo jalannya jadi lambat dan sering berhenti..

    Reply

Leave a Reply to ipah kholipah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

css.php