Idiot – Kita lebih

Idiot – Kita lebih

Ini tulisan serius, beda dari biasanya. Kenapa? Karena gue udah kasih tahu di depan. Ini tulisan serius, gitu. Dan sekarang sudah ada dua kata serius di paragraf ini. Bahkan kini tiga.

Tadi pagi gue berangkat ke kantor kesiangan, jadi mungkin nggak bisa dibilang tadi pagi, tapi tadi siang. Gue naik motor, karena belum punya mobil. Nyaris, kurang dua ratus tiga puluh juta lagi. Harga mobilnya dua ratus lima puluh. Gue ngebut karena matahari udah naik pitam, dan takut kulit gue jadi hitam. Walaupun sebenarnya gue lebih takut potong gaji karena sering masuk telat.

Speedometer hampir tiga digit, mendadak rem cakram gue paksa menggigit. Ada segerombolan anak berbaju olah raga oranye terang menyebrangi jalan. Mereka bergandengan tangan. Padahal gue yakin mereka bukan pasangan. Karena tidak mesra. Tapi aneh, laki-laki dan manusia dengan jenis kelamin yang sama juga bergandengan tangan, bahkan bertiga, bahkan berlima, bahkan bertujuh tidak putus setelah berhasil menyebrang. Ternyata mereka gerombolan orang nyaris sehat. Terlihat dari pandangan mereka yang rata-rata kosong, dan cara jalan yang agak tidak biasa. Kenapa gue bilang nyaris? Karena isi kepala mereka kurang sehat. Tapi hati tidak. Kenapa ya mereka bergandengan tangan? Mungkin karena diajari. Kita tidak. Itu yang berhasil gue pikirkan dalam waktu 2 menit menunggu barisan anak SLB tadi selesai menyebrang.

Sepanjang perjalanan sisa sebelum sampai ke kantor gue berpikir lagi. Kok senang ya, ngeliat mereka gandengan gitu? Kayaknya damai hidupnya. Padahal mereka minoritas, mereka gandengan, mereka bersatu jadi keliatan bergerombol. Kita tidak. Kita mayoritas, tapi dalam sendiri, jadi keliatan rame, padahal sepi. Mereka tidak. Kita banyak, tapi semu. Mereka tidak.

Gue sempet berpikir, sebenernya kenapa banyak yang menyebut mereka idiot? Bukan gue lho, tapi banyak. Padahal kita lebih. Kita bisa bergandengan tangan, tapi tidak. Tidak mau. Mau sih, tapi pilah-pilih. Bodoh. Mereka tidak. Anda semua orang idiot, dunia ini pasti damai, saling bergandengan. Seperti mereka. Yang katanya idiot. Kita lebih.

Share the joy

19 Comments

  1. Terkadang manusia egois. Mereka hanya ingin melakukannya sendiri. Padahal bila dengan ber’gandengan tangan’ satu sama lain, segala sesuatu akan terlihat mudah untuk dihadapi

    Reply
    • SUPERB!

      Reply
  2. Kita tidak idiot, kita hanya sibuk menuruti ego kita yang egois. Yang maunya mau sendiri, yang ga mikirin orang lain.

    Mereka tidak idiot, mereka hanya orang yang membutuhkan sesuatu yang lebih. Namun sayang, terkadang banyak hal yang ada pada kita namun tidak ada pada mereka itu tidak mau kita bagikan kepada mereka. Kepentok ego kita yang egois.

    Kita semua sama, hidup di bumi yang sama. Tak ada yang idiot. Hanya orang yang butuh untuk di beri perhatian, dan orang yang tidak mau memberi perhatian mereka yang membutuhkan..karena ego yang egois :(

    Reply
    • Sabar pak sabar,, jangan dipukul,, 😀

      yang bilang idiot kan bukan saya. mereka diluar sana..

      Reply
  3. Woa lagi kenapa lo jan. Hahaha. Kebanyakan lembur nih kayaknya. Eh, progres buku lo taroh sini dongs. \:p/

    Reply
    • Lagi keren gue,, bisa mikir begitu tumbenan, efek ketetesan kopi sisa lembur 😀

      Minggu depan kali ya, atau depannya lagi, atau depannya depanan lagi ehek :v

      Reply
  4. Karena manusia normal terkadang mikir, mereka sempurna. Mereka yang paling hebat. Jadi ga butuh orang lain. Padahal sih sama sekali ngga hebat, ngga sempurna. Beda sama manusia yang bisa dibilang minoritas. Walaupun minoritas, tapi hati mereka mayoritas. Mereka sadar mereka minoritas jadi jarang sombongnya. Makanya mereka bergandengan tangan karena mereka tau mereka sulit untuk sendiri. Dan memang begitu seharusnya. Bergandengan tangan. Kita semua. Bukan hanya mereka. Yaaassss! 😀

    Reply
    • YASSS!!!! toss dulu lah brod!

      Reply
  5. Gue sedih bang bacanya :’)

    Reply
    • Cup-cup,, *pukpuk

      Reply
  6. Setuju gw, manusia makin pinter tapi malah makin keliatan idiot,, dalam sebuah gerombolan aja bisa diam tanpa ngobrol sama sekali. Asik main hape

    Reply
    • SETUJU! *padahal gue juga maen hape kalo lagi ngumpil sama temen hehe

      Reply
  7. Gambarnya keren bang,, Manual semua bang?

    Reply
    • Iya bang. somay satu bang! *berasa abang-somay gue dipanggil bang mulu

      Reply
  8. Nice om ! (y) , *kan gamau dipanggil bang*

    Reply
    • YASS!

      Reply
  9. tulisan yang serius tidak serius ini, berhasil menaikkan keseriusan lu 20% sisanya masih diragukan.

    tapi tulisan ini bikin gue harua bilang setuju.

    kita sudah masuk dijaman, lo lo gue gue. bodoamat lo mau gimana yang penting gue begini.

    ya pokoknya gitu lah.

    :(

    Reply
    • Abis percumah juga serius, ujung-ujungnya ditinggalin sama si dia.. #lhokokcurcol 😛

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

css.php